Maaf Membuka Jalan Pengampunan
Kalangan Sendiri

Maaf Membuka Jalan Pengampunan

Lori Official Writer
      39

1 Titus 3:4–7

"Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita." 

 

Bayangkan sebuah pintu besar yang memisahkan dua ruangan. Selama bertahun-tahun, pintu itu tertutup rapat hingga engselnya mulai berkarat dan kaku. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang menyesakkan; di sisi lain, ada kepahitan yang dingin. Kita sering berpikir bahwa untuk membuka pintu yang berat itu, kita butuh tenaga besar atau argumen yang kuat. Namun, kenyataannya hanya ada satu kunci kecil yang mampu memutar tuasnya yaitu kata "maaf".

Banyak dari kita enggan meminta maaf karena takut terlihat lemah atau "kalah". Padahal, meminta maaf adalah tanda keberanian untuk jujur dan kerelaan untuk memperbaiki hubungan. Tanpa kerendahan hati untuk berucap maaf, gesekan kecil bisa menjadi tembok besar, dan jarak antarhati akan semakin menjauh.

Dasar dari keberanian kita untuk meminta maaf dan memberi ampun terletak pada hubungan kita dengan Tuhan. Dalam Titus 3:4–7, kita diingatkan bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita, melainkan karena kasih dan rahmat Allah.

  • Kita adalah orang yang lebih dulu diampuni saat kita tidak layak menerimanya (Efesus 4: 32).
  • Jika kita telah menerima kasih karunia yang begitu besar, sudah sepatutnya kita membagikan kasih itu kepada sesama (Matius 10: 8b).
  • Menghapus kesombongan adalah langkah utama, karena Tuhan memberikan belas kasihan-Nya kepada kita tanpa memandang masa lalu kita (Yakobus 4: 6).

Tentu saja tidak semua niat baik kita untuk berdamai dengan orang lain akan disambut dengan hangat. Terkadang, kita harus menghadapi penolakan atau hati yang masih keras. Namun, tugas kita adalah tetap menjangkau dan mencoba. Sebagaimana Kristus menanggung penderitaan demi mendamaikan kita dengan Bapa, kita pun dipanggil untuk menanggung risiko penolakan demi mewujudkan perdamaian terhadap semua orang.

Pagi ini, mari meminta Roh Kudus untuk mengisi hati kita dengan kasih dan keterbukaan menjadi pribadi yang tidak gengsi untuk meminta maaf:

"Tuhan, ajar kami untuk berani mengakui kesalahan kami. Tolong kami untuk tidak dikuasai gengsi, tapi mau hidup dalam kerendahan hati. Ajari kami untuk meminta maaf dan juga mengampuni, seperti Engkau sudah lebih dulu mengampuni kami. Amin."

 

Momen Refleksi: 

Adakah seseorang yang terlintas di pikiran Anda saat ini yang perlu Anda mintai maaf?

Ikuti Kami